BAB I
PENDAHULUAN
Suatu gerakan yang
cukup berpengaruh pada abad ke 19 di Jazirah Arab yakni yang dilancarkan oleh
Syeikh Muhammad Ibn ‘Abd al – Wahhab yang selanjutnya melahirkan apa yang
dinamakan Gerakan Wahhabi. Usaha Pembaruan , atau penyegaran, atau pemurnian
pemahaman umat kepada agamanya adalah sesuatu yang telah menyatu dengan sistem
Islam. Dalam sejarah , Nabi SAW sendiri dalam sebuah hadist mengisyaratkan
kepada adanya hal itu. Maka dari sudut tinjauan ini adalah suatu kejadian yang
wajar bila pada abad ke 18 di Jazirah Arab telah muncul usaha pembaruan yang
militan, yakni Gerakan Wahabi tersebut.
BAB I
PEMBAHASAN
A. Biografi
Muhammad Abd Ibn al – Wahhab.
Muhammad
Ibn ‘ Abd al-Wahhab memilik nama lengkap Abu ‘Abd-u-Liah Muhammad Ibn ‘Abd
al-Wahhab ibn Sulaiman Ibn ‘Ali ibn
Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rasyid at-Tamimi. Ia dilahirkan di Nejd (Arab Saudi),
suatu negeri yang masih murni keislamannya di jantung padang pasir Arab.
Ayahnya, Abd al-Wahhab adalah salah seorang hakim di kota kelahirannya di masa
pemerintahan ‘Abd-u-Liahibn Muhammad ibn Muammar , dan mengajar fiqh dan hadist
di masjid kota tersebut. Kakeknya, Sulaiman adalah seorang mufti di Nejd.
Muhammad Ibn ‘ Abd
al-Wahhab semula memperoleh pengetahuan di Ilmu fiqh dan ilmu agama lainnya
dari ayahnya untuk menambah ilmunya, ia kemudian merantau ke Hedjaz dan disitu
ia memperoleh pengetahuan agama dari ulama-ulama Makkah dan Madinah. Setelah
itu, ia pergi ke Bashra dan tinggal di kota btersebut selama ini empat tahun.
Selanjutnya ia pindah ke Baghdad dan memaduki hidup perkawinan dengan seorang
wanita kaya. Lima tahun kemudian, setelah istrinya meninggal dunia ia pindah ke
kurdistan (Irak Utara) kemudian ke Hamadan dan Esfahan (kini di Iran). Di kota
terakhir ini ia sempat mempelajari filsafat dan tasawuf. Setelah bertahun-tahun
merantau, ia akhirnya kembali ke tempat kelahirannya di Nejd. Pengembaraan
Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab yang bertahun-tahun ini memberikan pelajaran yang
berharga padanya. Timbul protes dalam dirinya terhadap keadaan umat islam yang
dirasakan telah jauh menyimpang dari semangat Al Qur’an. Maka sekembalinya dari
Nejd,ia mulai melancarkan gagasannya untuk memperbaiki perilaku keagamaan
masyarakat, terutama masalah akidah. Konsep-konsep yang diajukannya ternyata
mendapatkan tantangan dari masyarakat yang merasa kesucian agama yang mereka
yakini terusik. Menyadari bahwa perubahan perilaku sosial yang diajukannya akan
gagal bila tidak didukung oleh sebuah kekuatan , akhirnya beliau meninggalkan Nejd.
Kepergian beliau yang
kedua dari Nejd kali ini adalah unutk menghimpun kekuatan guna mendukung
misinya. Daerah yang dituju adalah al-Daryah, tempat tinggal Amir Muhammad ibn
Sa’ud dan kabilahnya.pada tahun 1744 digalanglah sebuah kesepakatan antara
keduanya untuk saling membantu gerakan masing-masing yang pada akhirnya menjadi
satu dalam gerakan. Dari sinilah awal mula berkembang gerakan reformasi yang
dicanangkan oleh ibnu ‘Abd al-Wahhab. Melalui keyakinan yang mantap,
ideologinya yang kuat, dan kerja keras yang terus menerus , akhirnya membawa
Ibn ‘Abd al-Wahhab berhasil untuk mewujudkan cita-citanya, sehingga ide-ide
beliau diikuti oleh hampir seluruh penduduk yang tinggal di daratan Arabia.
Bahkan ajaran-ajaran Beliau menyebar ke berbagai negara seperti India, Suda,
Libya dan Indonesia. Dia Arab Saudi sendiri Beliau juga telah berhasil membantu
Sa’ud mewujudkannya. Yang kini oleh masyarakat Internasional dikenal dengan nama
“Unitarian State of the Arabian
Reformation.” (Kesatuan dari Negara-negara daratan Arabia.
Pada Syawal 1206 H,
Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhab menderita sakit dan akhirnya meninggal. Upacara penguburan dihadiri oleh ribuan
pengikut dan murid-muridnya juga para pejabat negara. Bahkan Alama mUhammad bin
Ali al-Saukani al-Yaumani seorang penyair menampilkan kesedihannya yang
mendalam lewat karya sastranya.
B. Ide
Pembaharuan Muhammad Abd Ibn al – Wahhab
Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab adalah
salah satu tokoh pembaru yang terkenal di Arab. Ide pembaruan beliau muncul
sebagai luapan rasa ketidakpuasan hatinya terhadap keadaan umat islam yang
telah jauh dari semangat Al Quran dan suasan ketauhidan umat yang telah rusak
oleh paham musyrik. Sesungguhnya gerakan pembaruan al-Wahhab merupakan
kelanjutan gerakan pemurnian islam , kembali ke zaman ahmad ibn Hambal ataupun
Ibnu Taymiyah. Tetapi berbeda dengan gerakan ibn Hambal dan Ibn Taymiyah , yang
pertama lebih logis yang kedua lebih intualis., sedangkan gerakan Ibn ‘ Abd al-Wahab
menampilkan segi pemikiran yang lebih sederhana namun responsif, atau relevan
dengan keadaan umat islam. Kemudian dari sisi aplikasi ide pembaruan kepada
umat cara yang ditempuh berbeda dengan pendahulunya. Cara persuasif yang
ditempuh ibnu taymiyah dalam mencetuskan ajarannya dirasakan oleh ibn ‘Abd
al-Wahab tidak efektif, sehingga dia mengambil sikap keras dengan menggunakan
kekuatan. Sikap Abd al-Wahab terhadap
ajaran sufi sangat radikal. Beliau menganggap ajaran sufi inilah yang
bersumbernya kemusyrikan oleh karena itu beliau memeberantas habis praktek
ajaran sufi.
Gerakan pembaruan al-Wahab lebih
populer dengan sebutan”geraka wahabi”. Gerakan ini lahir dari dalam dinamika
masyarakat islam sendiri. Fazlur Rahman
dalam sebuah artikelnya memberikan ciri-ciri umum gerakan ini(
Reivalisme Pramodernis), yakni :
1. Keprihatinan
yang mendalam terhadap regenerasi sosial moral umat islam dan usaha untuk
mengubahnya
2. Imbauan
untuk kembali kepada islam sejati dan mengeyahkan takhayul-takhayul yang ditanamkan
oleh bentuk-bentuk sufisme populer, meninggalkan gagasan tentang kemapanan dan
finalitas mahzab-mahzab hukum serta berusaha melaksanakn itjihad.
3. Imbauan
untuk mengeyahkan corak predeterministik.
4. Imbauan
untuk melaksanakan pembaruan ini lewat kekuatan bersenjata (jihad) jika perlu.
C. Pemurnian
Tauhid Muhammad Abd Ibn al – Wahhab
Tauhid menurut Muhammad Ibn ‘Abd
al-Wahhab dalam kitabnya Majmu al Tauhid, ialah ibadah atau pengabdian kepada
Tuhan, karena setiap rasul yang di utus Tuhan memulai seruannya kepada manusia
agar beribadah hanya kepada Allah SWT. Selanjutnya dia membagi tauhid dalam
hubungan nya dengan ibadah menjadi 4 bagian , yakni:
a. Tauhid Uluhiyah (tauhid kepada
Allah SWT SEBAGAI YANG DISEMBAH)
b. Tauhid Rububiyah (tauhid
kepada Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu)
c. Tauhid asma dan sifat (tauhid
yang berhubungan dengan nama dan sifat Allah SWT)
d. Tauhid al-af-al (tauhid yang
berhubungan dengan perbuatan Allah SWT)
Tiga tauhid yang disebut terakhir hanya tauhid ilmu dan
keyakinan saja. Adapun tauhid yang sesungguhnya ialah tauhid pertama yakni
tauhid uluhiyah. Dan tauhid inilah yang dikehendaki oleh tuhan. Menurutnya kebanyakan
manusia dimuka bumi hanya memiliki salah satu dari tiga bentuk tauhid ,
sedangkan tauhid uluhiyah ditolak oleh banyak orang.
D. Muhammad
Abd Ibn al – Wahhab dab Ijtihad
Gerakan ‘Abd al-Wahhab ini tidak mengembangkan itjihad,
dan membentuk suatu sikap yang sedikitnya mengecilkan intelektualisme.
Kecurigaan terhadap intelektualisme,
bukan hanya mencakup filsafat melainkan juga teologi spekulatif yang
telah menjangkiti mahzab hambali. Menurut beliau islam adalah agama yang
sempurna dan menjadi ‘way of life” manusia. Kepada para sahabat, imam-imam,
para ahli hadist dan para ahli fikih pun telah meletakkan dasar agam sebagai
acuan dan petunjuk secara lengkap.
Muhammad
ibn ‘Abd al-Wahhab tidak disebut mujtahid, tapi beliau adalah mujtahid dalam
versi lain. Pertama , karena beliau berusaha keras mereformasi kaum muslimin,
menghidupkan kembali penggilan Allah SWT dan berusaha untuk memperbaiki islam
dalam bentuk yang lebih baik. Ide mngecilkan arti itjihad ini ditujukan agar
kaum muslimin kembali mempelajari AL Quran , sunnah, dan hasil pemikiran para ulama
serta imam terdahulu. Kedua, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhabtidak membudayakan
itjihaddikarenakan sejumlah mujtahid ( pada awalnya ahli tafsir), telah
melakukan kesalahan yang serius, dampaknya menurut beliau banyak larangan agama
yang dilanggar,solidaritas umat pun terganggu sehingga citra islam menjadi
buruk.
DAFTAR PUSTAKA
Amal,
Taufik Adnan. 1982. Metode dan Alternatif
Neomodernisme Islam Fazlur Rahman (Bandung : Mizan)
Azra,
Azyumardi dan Nasution, Harun (ed). 1985. Perkembangan
Modern dalam Islam (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia)
Donohue,
John J. Dan Esposito , John L. 1984.
Islam dan Pembaruan (Ensiklopedi Masalah-masalah) , terj.Drs, Machnun
Husein, Cet 1 (Jakarta : CV. Rajawali)
Iqbal
, Sheikh Muhammad .1988.Sheikh Muhammad
Bin Abdul Wahhab. The Wonder of Modern Islam (Kashmir : Barzalla Bridge)
Madjid,
Nurcholish.1994. Khazanah Intelektual
Islam (Jakarta : Bulan Bintang)
Majid,
Nurcholish.1994. Islam Kemodernan dan
Keindonesiaan (Bandung: Mizan)
Mufrodi,
Ali. 1997. Islam di kawasan Kebudayaan
Arab (Jakarta : Logos)
Nasution,
Harun.1992. Pembaruan dalam Islam. Sejarah Pemikiran dan Gerakan
(Jakarta : Bulan Bintang)
Rahman,
Fazlur. 1984. Islam dan Modernitas
tentang Transformasi Intelektual, terj . Ahsin Mohammad (Bandung : Pustaka)
Sjadzali,
Munawir. 1993. Islam dan Tata Negara
Ajaran Sejarah, dan Pemikiran (Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar